Saturday, 26 November 2011

Nginep di Purez

Rabu kemarin gw sama Ias nginep di Purez. Seperti biasa, kalo udah ada dua orang bodoh bersatu luntang-luntung pasti kejadian-kejadian yang aneh muncul.

1. Paginya Purez pergi ke Tangerang sama Chui Aldy, jadi gw sama Ias kebingungan untuk masuk ke kosannya gimana karena kuncinya ada di Purez. Sempet rencananya mau ke Perpus UI atau bahkan ke kosannya Andari yang letaknya 1 lantai di atas kosannya Purez (Kosan Purez itu di Kencana Putri lantai 3). Pada akhirnya kita minjem kuncinya Vinne yang konon temen sekamarnya Purez tapi lagi ga tidur di kosan karena ngurusin Sea Games.

2. Karena sebelumnya si Ias pernah nginep di kosan Purez, dia bilang kalo snack yang kita bawa haruslah banyak....apalagi kalo yang nginep kita berdua. Jadilah gw dan dia jalan ke Alfamart Psikologi beli indomie soto 3 bungkus, sozzis 2 bungkus, 1 botol Tebs besar, kripik nachos apa gitu lupa mereknya, dan bubblegum Barbie :p

3. Begitu sampe kosan Purez, gw ngeluarin botol Tebs dari kantong plastik. Karena udah mulai ga dingin, gw nanya ke Ias "Yas, gimana ya biar minumnya dingin?" yang kemudian ia jawab dengan "Taro di atas lemari aja di bawah AC". Gw pun menarik kursi yang ada di deket lemari dan siap meletakkan botol itu di atas lemari. "Disini kan yas?" gw tanya sambil dengan perlahan melepaskan genggaman gw. Berikutnya, semuanya berjalan dengan sangat cepat dan tak terduga. Tiba-tiba gw denger suara gedebuk 2 kali. Dan...gedebukan terakhir menandakan botol Tebs tersebut sudah secara resmi berada di balik lemari dan tidak bisa kita ambil lagi. Spontan, kita ketawa.

4. Karena laper, akhirnya kita makan 4 bungkus mie rasa soto sembari nonton penutupan Sea Games.

5. Gw sama Ias foto-foto menggunakan peralatan yang bisa kita temuin di meja belajar Purez.

6. Purez pulang jam 10 malem.

7. Jam 12 malem, gw sama Ias ngidam makan McD.

8. Ujung-ujungnya ga makan dan tidur sekitar jam 1 pagi.

Saturday, 19 November 2011

Ceritanya mau keliatan intelek..

Jadi daripada blog ini ga pernah gw update, gw masukin aja latar belakang penelitian gw yang paling baru #eaaa #pamer. Nilainya sih belom keluar berapa, tapi ya mudah-mudahan sih ga jelek-jelek amat. Lumayan juga, ngerjain latar belakangnya doang aja bisa ampe 3 minggu gara-gara ga tau mau pake teori apa. Ujung-ujungnya setelah konsul ke temen yang anak Fakultas Psikologi, nyangkut lagi ke teorinya si Vygotsky dan Maslow yang baru aja gw temui di UTS Kelas Pengantar Teori Pengajaran Bahasa Inggris #teriakemosi

Impotensi Sosial dalam Karakter Jack pada Novel “Room”

Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak mampu hidup sendiri. Dengan kata lain, manusia membutuhkan keberadaan manusia lainnya untuk membantunya menjalankan kehidupan. Kebutuhan ini mendorong manusia untuk mengadakan interaksi sosial. Selain itu, interaksi sosial juga dibutuhkan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki masing-masing. Menurut aliran social constructivism, interaksi sosial bersifat penting karena dapat membentuk kemampuan kognitif dan kemampuan emosional seseorang (Brown). Interaksi sosial dalam konteks ini harus bersifat antar manusia. Namun lain halnya yang dialami oleh tokoh Jack dalam novel Room karya Emma Donoghue. Dalam kehidupan yang ia jalani, interaksi yang ia lakukan merupakan interaksi antara dirinya dengan barang-barang yang ia temui di dalam ruangan yang ia tinggali. Keterpenjaraan dalam suatu ruang tinggal yang sempit dan ia namai ‘Room’ memutuskan hubungannya dengan dunia luar. Selama 5 tahun pertama dalam hidupnya, Jack hanya dapat berinteraksi dengan ibunya dan barang-barangnya yang ia gunakan sebagai substitusi dari keberadaan manusia lain. Hal ini mengindikasikan bahwa Jack memiliki suatu impotensi dalam kehidupan sosialnya yang dibentuk oleh lingkungan.

Terdapat suatu abnormalitas pada interaksi sosial yang dilakukan oleh Jack dalam kehidupan sehari-harinya. Karena keterbatasan kemampuan Jack untuk menjalin hubungan dengan manusia lain selain ibunya, ia menganggap barang-barang di sekitarnya sebagai suatu individu. Sebagai contoh, ketika Jack sedang membicarakan kegiatan sehari-harinya ia mengatakan, “We have thousands of things to do every morning, like give Plant a cup of water in Sink for no spilling, then put her back on her saucer on Dresser” (Donoghue, 8). Dalam kalimat ini ‘sink’, ‘plant’, dan ‘dresser’ yang tentunya merupakan benda mati ditulis dengan huruf pertama kapital walaupun tidak terletak pada awal kalimat. Pengawalan nama barang dengan huruf kapital tersebut, layaknya nama untuk makhluk hidup seperti manusia, adalah suatu representasi mengenai arti dari barang-barang tersebut bagi Jack. Dalam konteks ini, dapat diartikan pula bahwa Jack tanpa disadari menganggap benda-benda mati tersebut sebagai teman sepantarannya dimana dapat ia ajak untuk berinteraksi sewaktu-waktu. Penggunaan possessive adjective ‘her’ untuk menggantikan ‘Plant’ juga memperkuat anggapan mengenai pandangan Jack terhadap barang-barang di sekelilingnya. Ketimbang memakai possessive adjective seperti ‘its’ dimana tidak adanya keterkaitan dengan gender, Jack memakai ‘her’ yang menunjukkan bahwa ‘Plant’ memiliki suatu gender layaknya manusia. Hal semacam ini juga ia berlakukan pada barang-barang lainnya. Selain itu, fenomena-fenomena yang umumnya dialami oleh manusia layaknya kematian juga Jack anggap dapat dialami oleh ‘teman-teman’nya tersebut. Sebagai contoh adalah ketika Jack mengatakan, “One day when I was four TV died and I cried, but in the night Old Nick brung a magic converter box to make TV back to life” (Donoghue, 10). Pemilihan kata ‘died’ dan ‘back to life’ pada kalimat ini juga mengindikasikan kesetaraan barang tersebut dengan manusia di mata Jack. Gejala abnormalitas yang ditunjukkan oleh Jack dalam interaksi sosialnya tersebut dibentuk oleh keadaan dan lingkungan.

Beberapa kebutuhan dasar Jack dirasakan tidak terpenuhi ketika ia diharapkan untuk mulai beradaptasi dengan dunia di luar ‘Room’ untuk pertama kalinya. Fenomena ini dapat dikaitkan dengan konsep hierarchy of needs oleh Abraham Maslow dalam Cherry. Berdasarkan konsep ini, manusia memiliki 5 macam kebutuhan dasar. Kelima kebutuhan dasar ini dibagi menjadi 2 kelompok, yakni growth needs dan deficiency needs. Kebutuhan yang termasuk dalam kategori growth needs berada di puncak piramida hierarchy of needs dan muncul sebagai keinginan untuk mengembangkan suatu potensi yang dimiliki seorang manusia. Kebutuhan ini dinamakan self-actualizing needs. Sedangkan physiology needs, security needs, social needs, dan esteem needs merupakakan kebutuhan dasar yang masuk ke dalam kategori defieciency needs dimana apabila tidak terpenuhi akan menciptakan rasa gusar. Kegusaran ini tidak terlihat pada Jack ketika ia masih tinggal di dalam “Room”. Hal ini mengindikasikan sudah terpenuhinya keempat kebutuhan tersebut walaupun ia berada dalam kondisi terpenjara dan kekurangan interaksi sosial. Lain halnya ketika ia mulai beradaptasi di dunia luar ‘Room’. Perlahan-lahan Jack merasa deficiency needs yang dimilikinya mulai tidak terpenuhi oleh lingkungan barunya dan menciptakan kegusaran serta ketidaknyamanan. Salah satunya adalah kebiasaan Jack untuk menyusu kepada ibunya. Semenjak keberhasilannya untuk keluar dari “Room”, Ma, sebutan Jack untuk ibunya, mulai mengurangi intensitas untuk menyusui Jack. Hal ini membuat Jack gusar dan bingung. Ketika Ma menolak menyusui Jack untuk kesekian kalinya, ia pun berkata “everything’s backwards today” (Donoghue, 175). Rasa tidak terpenuhi tersebut juga muncul ketika ia merasa rindu dengan barang-barang lamanya yang tertinggal di “Room”. Beberapa kali ia menyinggung soal “Room” kepada Ma dengan harapan ia masih bisa mengunjungi atau bahkan tinggal kembali disana. Ketika hendak tidur, Jack mengungkapkan kerinduannya akan ‘teman-teman’ lamanya yang masih tertinggal dengan mengatakan, “In the night in our bed that’s not Bed, I rub the duvet, it’s puffed-upper than Duvet was” (Donoghue, 313).

Keterpenjaraan Jack membuatnya tidak sadar akan aturan-aturan sosial yang berlaku di masyarakat. Seperti halnya dalam teori oleh Vygotsky dalam Gallagher, interaksi sosial memiliki pengaruh yang cukup signifikan pada cara berpikir dan perkembangan anak. Dalam kasus ini, karena tidak adanya interaksi sosial, Jack yang sudah berumur 5 tahun masih belum mengerti tentang konsep dan aturan sosial yang seharusnya sudah diketahui sejak usia dini. Sebagai contoh adalah ketika ia bertemu seorang anak kecil di perpustakaan. Ketika anak kecil tersebut hendak beranjak pergi, Jack memeluknya dan secara tidak sengaja membuat anak kecil tersebut terjatuh dan menangis. Konsep mengenai bagaimana bersikap ketika berhadapan dengan orang asing masih belum ia mengerti dengan baik sehingga kejadian semacam itu terjadi.

Karena masalah-masalah tersebut, penulis akan membahas kemunculan masalah-masalah yang timbul pada kehidupan sosial Jack yang berakar dari abnormalitas pada interaksi sosialnya dan bagaimana ia berhasil menyikapinya pada bagian akhir novel. Penulis akan menggunakan teori-teori mengenai perkembangan kemampuan anak dan interaksi sosial untuk menjelaskan abnormalitas interaksi sosial yang dimiliki oleh Jack. Dengan adanya penelitian ini, penulis berharap masyarakat akan lebih sadar terhadap masalah-masalah dalam interaksi sosial yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Referensi:

Brown, H. Douglas. 1941. Principles of Language Learning and Teaching. New York: Pearson Education.

Cherry, Kendra. “Hierarchy of Needs: The Five Levels of Maslow’s Hierarchy of Needs”. http://psychology.about.com/od/theoriesofpersonality/a/hierarchyneeds.htm. (diunduh tanggal 28 Oktober 2011)

Donoghue, Emma. 2010. Room. New York: Back Bay Books.

Gallagher, Christina. “Lev Semyonovich Vygotsky”. 1999. http://www.muskingum.edu/~psych/psycweb/history/vygotsky.htm. (diunduh tanggal 28 Oktober 2011)